Posted on Leave a comment

PCOS Journey: 2014

featured image

Semua yang terjadi padaku sudah digariskan oleh-Nya

Inung, 2020

Tahun 2014 menjadi tahun yang cukup memorable bagiku. Waktu itu aku masih mengajar di sebuah sekolah swasta di kabupaten. Aku bersama temanku mendatangi obgyn di kota. Keluhan kami sama, ya masalah haid. Aku sendiri bermasalah karena masa haidku yang terlampau panjang, bisa sampai 12 bahkan 15 hari setiap bulannya. Sedangkan temanku, dia mengalami nyeri yang parah ketika haid menjelang. Akhirnya kami bersepakat untuk memeriksakan diri bersama – sama.

Tiba di rumah sakit, masih mengenakan seragam mengajar. Masih terlihat single, tapi sudah mengantri bersama ibu – ibu hamil lainnya. Memang iya kami belum menikah waktu itu. Mungkin jika orang melihat, akan ada stigma negatif, namun biarlah asumsi orang berjalan sesuai dengan arah pikiran mereka. Aku gak mau tahu, yang pasti kami berdua memeriksakan kesehatan reproduksi kami untuk penanganan lebih dini.

Jujur, aku mengalami haid seperti ini sudah sejak usia SMA (Sekolah Menengah Atas). Sudah tak heran bagi teman – temanku ketika mereka mendapati masa libur shalatku panjang. Pun di luar 15 hari haid, terkadang muncul flek yang berkelanjutan. Kalian bisa membayangkan bagaimana rasanya bebersih diri sebelum waktu shalat, dimanapun berada. Harus prepare semua peralatan perempuan di tas bawaanku, baik CD, pembalut, dan handuk atau kain pengering. Awalnya merasa “Kok ribet banget sih?”, tapi semua kutepis demi ibadahku. Bukan hanya sehari, sepekan, namun sampai bertahun – tahun. Bismillah saja, walaupun terkadang ada rasa capek yang membuat hati untuk acuh. Namun dari sinilah, akhirnya aku mulai banyak diskusi dengan teman – teman di pondok mengenai istihadlah dan bagaimana cara beribadah pada saat itu. Alhamdulillah.

***

Sewaktu suster memanggil kami berdua, kami langsung masuk ke ruangan dokter. Secara bergantian kami diminta untuk duduk dan menjelaskan keluhan yang dirasakan. Aku mengutarakan semua yang terjadi pada diriku, terutama permasalahan haid yang terlampau lama. Lalu dokter meminta supaya aku diperiksa menggunakan USG (Ultrasonografi) untuk melihat kondisi rahim dan ovariumku.

“Dingin”, sensasi pertama ketika diolesi gel di bagian perut bawah. Perlahan dokter menggerakan alat tersebut, menjelaskan letak rahim dan ovarium. Namun dokter langsung kaget ketika memeriksa bagian ovarium,  di sana banyak terdapat folikel – folikel kecil yang menggumpal seperti anggur. Tidak hanya di ovarium kanan, namun kiri juga sama, bahkan lebih banyak. Beliau bergumam, “Wah ini PCO!”. Aku hanya bingung, tak tahu istilah apa itu. Yang akhirnya beliau menjelaskan secara rinci tentang penyakit tersebut. Sampai aku ditanya lagi tentang kesehatan lainnya, seperti jerawat bisul yang sering muncul, riwayat diabetes keluarga, dan stress dalam hidup, yang akhirnya menambah diagnosa bahwa tubuhku tidak hanya mempunyai PCO namun juga PCOS.

Aku teringat sekali waktu itu ketika dokter bilang, “Mbak, jangan stress. Stress apa sih? Ngajar kan? Saya yang dokter aja happy – happy aja.”

Aku hanya tersenyum saja sambil menanyakan pada diri sendiri, “Emang aku stress apa ya? kurasa gak ada beban berat yang aku pikirkan.”.

Eh dokter bilang lagi, “Sudah menikah belum?”.

“Belum”, jawabku.

Beliau menimpali, “Harus cepet punya anak ini, kapan nikahnya?”

“Duh, kena deh pertanyaan sensitif !”, pikirku. Aku yang sampai 24 tahun ini ternyata belum bertemu jodoh yang tepat. Aku hanya menjawab, “Ya masih nyari calonnya, Bu”.

Memang benar, saat itu aku sedang mencari calon ayah untuk anak – anakku. Aku sudah mengajukan biodata pada guru ngaji supaya dicarikan orang yang tepat. Sembari aku mengobati permasalahan kesehatan yang kualami.

Dokter dengan penjelasan yang detail menerangkan tentang PCO/PCOS yang kualami. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan kata beliau. Namun bisa diterapi supaya bisa hamil lebih cepat lebih baik. Oiya, aku lupa menyampaikan di atas bahwa penderita PCO/PCOS ini memang cenderung sulit untuk hamil. Tapi ya wallahu a’lam aja. Yang ngasih rezeki anak kan Allah, kita cuma bisa ikhtiar. Termasuk ikhtiar mencari calon suami.

Namun, karena saat itu aku belum menikah, aku hanya dianjurkan untuk minum obat penstabil hormon, cyclo-proginova, supaya haidku lebih teratur selama 3 bulan pertama. Selanjutnya diminta untuk kontrol kembali setelah obatnya habis. Nanti baru akan di berikan pertimbangan apakah akan lanjut konsumsi penstabil hormon lagi atau tidak.

Lalu bagaimana dengan temanku? Ternyata dia mengalami endometriosis yang membuat nyeri begitu sakit ketika awal haid. Dokterpun menasihati supaya segera menikah saja. Duh, tambah baper!

Kami pulang dengan perasaan yang cukup membawa beban. Penyakit yang baru diketahui dan beban untuk segera menikah padahal calon suami pun belum ada. Nikah sama siapa coba??

#truestory #me.

____________________

Jangan lupa subscribe dan follow me ya. Thankyou for reading

Posted on Leave a comment

Perbedaan PCO dan PCOS pada Perempuan

PCOS Featured Image

Halo teman – teman semua. Masih penasaran dengan yang namanya PCO dan PCOS? Mari kita bahas.

PCO adalah Polycystics Ovaries. Dimana sel telur yang harusnya berkembang secara periodik dalam jumlah kecil, justru berkembang secara bersamaan dalam jumlah banyak dan berkumpul mengelilingi ovarium. Biasanya kondisi ini dapat terlihat pada pemeriksaan ultrasonography (USG).

Sedangkan PCOS adalah Polycystic Ovarian Syndrome merupakan kondisi yang lebih khusus dimana terdapat himpunan gejala yang muncul secara serentak. Seperti muncul banyak jerawat, banyak rambut, hormon adrenalin yang tinggi, haid tidak teratur, resistansi insulin dan sebagainya. PCOS ini dapat didiagnosa dengan ataupun tanpa adanya PCO.

Sumber: https://www.uears.net/blog/wp-content/uploads/2019/11/polycystic_ovary_syndrome_PCOS56801820_M.jpg

Dari beberapa sumber yang saya baca, sangat dimungkinkan ada orang yang mempunyai PCO tanpa PCOS, ada juga yang mempunya PCOS tanpa PCO, dan yang mempunyai keduanya. Jadi antara satu orang dengan orang lain tidaklah sama.

PCO tanpa PCOS

Perempuan ini mempunyai PCO dimana ketika telah dilakukan USG pada bagian ovarium, maka akan tampak banyak sel telur yang berkembang dan posisinya menutupi permukaan ovarium. Bisa dibayangkan seperti buah anggur.

Namun, perempuan tersebut tidak mempunyai gejala lainnya seperti pertumbuhan rambut di mana – mana, jerawat yang parah, dan lain sebagainya.

PCOS tanpa PCO

Dalam kasus ini, seorang perempuan mempunyai banyak gejala yang muncul secara bersamaan. Misalnya mempunyai siklus haid yang tidak teratur, muncul jerawat di mana – mana, pertumbuhan rambut seperti laki – laki dan resistansi insulin. Tanda lainnya juga ada yang menyebutkan terlalu over weight/ kegemukan. Tapi, menurut saya tidak mesti yang kegemukan mempunyai kasus PCOS.

Ketika dilakukan tes USG, pada ovariumnya tidak menampakkan banyaknya folikel (sel telur yang berkembang) yang berada pada permukaan ovarium.

Punya Keduanya?

Kalau yang ini merupakan versi lengkap. Dimana perempuan yang mempunyai PCO dan PCOS memunculkan berbagai macam gejala serta mempunyai hasil USG yang menggambarkan penampakan ovarium seperti buah anggur.

Untuk gejala atau symptom pada PCOS juga bermacam – macam. Tiap penderitanya mempunyai ciri masing – masing. Jadi, tidak bisa disamakan antara perempuan PCOS satu dengan yang lainnya. Bisa jadi yang tubuh kurus seperti saya juga mempunyai PCOS. Dan itu benar.

Pengalaman Saya

USG

Pada tahun 2014, saya terdeteksi PCO dan PCOS. Saya melakukan tes USG di salah satu dokter Sp.OG. Dari hasil USG terlihat bahwa di ovarium kanan dan kiri saya tampak seperti buah anggur (Maaf, saya kehilangan foto hasil USG, jadi tidak bisa menampilkan di sini). Teman – teman bisa search pada sumber lainnya di sini. Tes USG tersebut saya lakukan pada waktu menstruasi, tepatnya saya lupa, mungkin sekitar hari ke-3.

Gejala yang Muncul

Selain itu, saya juga ditanya banyak hal oleh dokter tersebut. Saya menjelaskan bahwa saya mengalami berbagai macam gejala seperti jerawat yang cukup banyak, suka makanan manis, siklus haid teratur namun lama haid melebihi normal.

Untuk jerawat seringkali muncul pada bagian muka, punggung bahkan kepala. Khusus yang di muka, secara periodik jerawat tersebut muncul, membesar, matang, dan pecah. Alhamdulillah kalau pertumbuhan rambut masih tergolong wajar. Walaupun di bagian dagu saya agak kasar, sepertinya kalau dikerik pakai pemotong rambut bisa tumbuh bulu – bulu.. oh No! >.<

Suka makanan manis? Ini mungkin bisa menjadi indikasi ke arah gula darah tinggi, yang bisa memacu insulin lebih tinggi. Namun saat itu saya tidak langsung cek kadar gula darah. Tapi pas di kesempatan lain saya cek masih dalam batas normal. Selanjutnya, untuk siklus haid saya +/- 28 hari, namun mempunyai lama hari yang panjang. Biasanya 9 hari berhenti, dan berlanjut lagi pada hari ke 11 atau 12 sampai 16 hari. Begitu terus setiap bulannya.

Jadi untuk PCO jelas telihat dari hasil USG, sedangkan PCOS dapat dilihat dari berbagai gejala yang muncul. Perlu teman – teman ingat lagi bahwa gejala ini sangat berbeda antara satu orang seperti saya yang kurus dengan orang lainnya. Bukan untuk body shamming ya, hehe.

Nah, dari penjelasan di atas apakah teman – teman sudah paham? InsyaAllah, untuk kedepannya saya akan menuliskan tentang bagaimana treatment untuk bisa lebih sehat walaupun mempunyai PCO ataupun PCOS. Teman – teman bisa melihat di project tulisan “PCOS Fighter“. Terima kasih.

(Sumber bisa dibaca di sini dan ini)