Categories
Beasiswa LPDP

Kuliah S2, Amanah dari Ibu

Belum Dapat Ridlo untuk Kuliah S2

Menjadi sebuah mimpi dan keinginan besar dari saya sewaktu lulus kuliah S1 adalah langsung mengambil kuliah S2 dengan menggunakan beasiswa. Tahun 2013, menjadi petualangan pertama saya untuk hunting beasiswa, beasiswa DIKTI menjadi target pertama saya.

Awalnya ingin kuliah di ITB, namun tertolak. Sebenarnya waktu itu mendapat penawaran untuk pindah prodi di pengajaran fisika bukan di fisika ‘murni’ namun saya tidak serta merta menerimanya. (Maklum ya, kalau jebolan kampus pendidikan sukanya bilang fisika murni dan fisika pendidikan. hihi…). Wallahu a’lam, entah karena saya menolak pindah prodi (karena beasiswa DIKTI tidak support ke prodi tersebut waktu itu) atau karena memang saya tidak mumpuni di prodi fisika ‘murni’ sehingga saya tertolak. Ya, cukup menjadi pengalaman bagi saya.

Ternyata memang ada alasan lain yang lebih berat, yaitu ibu belum ridlo.

Manut pesan Ibu

Apalah daya sebagai anak, tanpa ridlo orang tua jalannya hidup menjadi susah.

Manut pada Ibu waktu itu butuh proses, beliau menginginkan saya bekerja terlebih dahulu selepas S1. Jadilah saya mengajar di sebuah SMK di Purwokerto.

Manut saja sama Ibu, walaupun tekad kuliah S2 masih tertanam kuat di hati. Saya menjalani kegiatan sebagai guru di sana. Guru Fisika SMK,yang kegiatan selingannya latihan nulis dan jualan online.

Dua tahun mengajar, ternyata membuat saya jenuh. Berkali – kali ada niat resign dari SMK dan akhirnya resign pada tahun 2015. Dari situlah mulai mengumpulkan niat untuk mencari beasiswa untuk kuliah S2. Target saya saat itu adalah LPDP dari Kemenkeu dengan tujuan kuliah di UPI.

Sehingga pada pertengahan 2015, saya mendaftar beasiswa LPDP. Waktu itu lolos tes administrasi, lalu lanjut ke wawancara dan LGD. Pada waktu tes wawancara memang cukup menegangkan dan saya gagal di sini.

Kembali lagi ke rumah lalu menanyakan ke Ibu langsung. Ternyata beliau masih belum ridlo juga untuk jauh – jauh dari anaknya, walaupun sebelum keberangkatan pun saya sudah minta izin untuk mendaftar beasiswa ini dan diizinkan. Sepertinya masih ada hati yang belum bisa melepas anaknya.

Terlanjur Resign

Beasiswa gagal, terlanjur resign dari mengajar. Alhasil ini adalah masa – masa untuk mulai menjadi freelancer.

Sedih karena belum juga bisa lanjut S2. Justru mbak saya yang niatnya pulang ke rumah, malah dia yang akhirnya diterima terlebih dahulu di UPI. Jadilah saya tetap di rumah menemani bapak dan ibu.

Saya mulai menjadi freelancer pada pertengahan tahun 2015. Jualan online sewaktu mengajar masih saya lanjutkan, ditambah dengan job menulis artikel yang saya tekuni dari April 2015 dan menjadi guru les privat fisika.

Ibu jatuh sakit, saya harus merawatnya, menemani ke rumah sakit, dan menjaganya sewaktu bapak tidak bisa menemani. Kurang lebih tiga bulan secara intensif merawat ibu dan qadarullah ibu akhirnya meninggal pada 3 Desember 2015.

Sebelumnya, beliau berpesan ingin melihat mbak saya selesai S2 dan menikah, saya juga diminta untuk kuliah S2. Namun ternyata beliau sama sekali tidak bisa melihat anak – anaknya lulus bahkan melihat saya ataupun mbak menikah.

Doa Ibu Terijabah

Walaupun ibu sudah tiada, doanya terijabah.

Harapan supaya anak – anak perempuannya kuliah S2 menjadi kenyataan. Saya yang masih sedih dengan kehilangan sosok Ibu di akhir tahun 2015, mencoba untuk bangkit dan mulai menyiapkan diri menjalankan amanah dari Ibu. Ya, kuliah S2.

Akhirnya saya mencoba mendaftar beasiswa LPDP lagi pada batch 1 tahun 2016, bulan Januari tepatnya. Saya mendaftar untuk kuliah di Pendidikan Fisika, UNY. Namun, setelah ada pengumuman diterima beasiswa LPDP, saya pindah tujuan kuliah. Saya memilih Fisika, UGM. Mengapa saya pindah? saya merasa ingin lebih mendalami fisika, bukan di aspek pendidikannya.

Ternyata pendaftaran di UGM pun diterima, alhamdulillah lega rasanya. Pun pengajuan pindah tujuan kuliah dari pihak LPDP juga diterima, walaupun ada sejumlah uang yang sudah masuk ke UNY. Niatnya pengin double kuliah, tapi ternyata waktunya tidak mencukupi. Ya sudahlah.

Kuliah S2 di UGM, sangat berbeda dengan kuliah S1. Baik dari budaya belajarnya, riset, publikasi dan banyak hal lainnya. Saya sempat mencicipi bagaimana konferensi di Shanghai dan juga science camp di Thailand saat kuliah di UGM. Alhamdulillah pengalaman yang berharga. Semua berkat doa ibu juga. Walaupun pada kenyataannya ada rasa sedih ketika mengalami semuanya, karena ibu tak melihat hasil dari setiap apa yang beliau doakan untuk anak – anak. Hanya rindu dan doa kupanjatkan pada Allah untuk beliau yang sudah masuk ke alam barzah.


(Visited 11 times, 1 visits today)

One reply on “Kuliah S2, Amanah dari Ibu”

[…] Saya gagal di pendaftaran yang pertama, salah satunya adalah karena restu ibu yang belum turun 100%. Ya, pada saat itu ibu saya sudah membolehkan, namun ternyata setelah di selidiki lagi beliau masih belum rela anaknya pergi untuk kuliah. Dari peristiwa ini, saya mempunyai kenangan yang teramat penting untuk tidak dilupakan. InsyaAllah saya akan menuliskannya di postingan tersendiri di sini. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *