Categories
PCOS

PCOS Journey: 2014

Semua yang terjadi padaku sudah digariskan oleh-Nya

Inung, 2020

Tahun 2014 menjadi tahun yang cukup memorable bagiku. Waktu itu aku masih mengajar di sebuah sekolah swasta di kabupaten. Aku bersama temanku mendatangi obgyn di kota. Keluhan kami sama, ya masalah haid. Aku sendiri bermasalah karena masa haidku yang terlampau panjang, bisa sampai 12 bahkan 15 hari setiap bulannya. Sedangkan temanku, dia mengalami nyeri yang parah ketika haid menjelang. Akhirnya kami bersepakat untuk memeriksakan diri bersama – sama.

Tiba di rumah sakit, masih mengenakan seragam mengajar. Masih terlihat single, tapi sudah mengantri bersama ibu – ibu hamil lainnya. Memang iya kami belum menikah waktu itu. Mungkin jika orang melihat, akan ada stigma negatif, namun biarlah asumsi orang berjalan sesuai dengan arah pikiran mereka. Aku gak mau tahu, yang pasti kami berdua memeriksakan kesehatan reproduksi kami untuk penanganan lebih dini.

Jujur, aku mengalami haid seperti ini sudah sejak usia SMA (Sekolah Menengah Atas). Sudah tak heran bagi teman – temanku ketika mereka mendapati masa libur shalatku panjang. Pun di luar 15 hari haid, terkadang muncul flek yang berkelanjutan. Kalian bisa membayangkan bagaimana rasanya bebersih diri sebelum waktu shalat, dimanapun berada. Harus prepare semua peralatan perempuan di tas bawaanku, baik CD, pembalut, dan handuk atau kain pengering. Awalnya merasa “Kok ribet banget sih?”, tapi semua kutepis demi ibadahku. Bukan hanya sehari, sepekan, namun sampai bertahun – tahun. Bismillah saja, walaupun terkadang ada rasa capek yang membuat hati untuk acuh. Namun dari sinilah, akhirnya aku mulai banyak diskusi dengan teman – teman di pondok mengenai istihadlah dan bagaimana cara beribadah pada saat itu. Alhamdulillah.

***

Sewaktu suster memanggil kami berdua, kami langsung masuk ke ruangan dokter. Secara bergantian kami diminta untuk duduk dan menjelaskan keluhan yang dirasakan. Aku mengutarakan semua yang terjadi pada diriku, terutama permasalahan haid yang terlampau lama. Lalu dokter meminta supaya aku diperiksa menggunakan USG (Ultrasonografi) untuk melihat kondisi rahim dan ovariumku.

“Dingin”, sensasi pertama ketika diolesi gel di bagian perut bawah. Perlahan dokter menggerakan alat tersebut, menjelaskan letak rahim dan ovarium. Namun dokter langsung kaget ketika memeriksa bagian ovarium,  di sana banyak terdapat folikel – folikel kecil yang menggumpal seperti anggur. Tidak hanya di ovarium kanan, namun kiri juga sama, bahkan lebih banyak. Beliau bergumam, “Wah ini PCO!”. Aku hanya bingung, tak tahu istilah apa itu. Yang akhirnya beliau menjelaskan secara rinci tentang penyakit tersebut. Sampai aku ditanya lagi tentang kesehatan lainnya, seperti jerawat bisul yang sering muncul, riwayat diabetes keluarga, dan stress dalam hidup, yang akhirnya menambah diagnosa bahwa tubuhku tidak hanya mempunyai PCO namun juga PCOS.

Aku teringat sekali waktu itu ketika dokter bilang, “Mbak, jangan stress. Stress apa sih? Ngajar kan? Saya yang dokter aja happy – happy aja.”

Aku hanya tersenyum saja sambil menanyakan pada diri sendiri, “Emang aku stress apa ya? kurasa gak ada beban berat yang aku pikirkan.”.

Eh dokter bilang lagi, “Sudah menikah belum?”.

“Belum”, jawabku.

Beliau menimpali, “Harus cepet punya anak ini, kapan nikahnya?”

“Duh, kena deh pertanyaan sensitif !”, pikirku. Aku yang sampai 24 tahun ini ternyata belum bertemu jodoh yang tepat. Aku hanya menjawab, “Ya masih nyari calonnya, Bu”.

Memang benar, saat itu aku sedang mencari calon ayah untuk anak – anakku. Aku sudah mengajukan biodata pada guru ngaji supaya dicarikan orang yang tepat. Sembari aku mengobati permasalahan kesehatan yang kualami.

Dokter dengan penjelasan yang detail menerangkan tentang PCO/PCOS yang kualami. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan kata beliau. Namun bisa diterapi supaya bisa hamil lebih cepat lebih baik. Oiya, aku lupa menyampaikan di atas bahwa penderita PCO/PCOS ini memang cenderung sulit untuk hamil. Tapi ya wallahu a’lam aja. Yang ngasih rezeki anak kan Allah, kita cuma bisa ikhtiar. Termasuk ikhtiar mencari calon suami.

Namun, karena saat itu aku belum menikah, aku hanya dianjurkan untuk minum obat penstabil hormon, cyclo-proginova, supaya haidku lebih teratur selama 3 bulan pertama. Selanjutnya diminta untuk kontrol kembali setelah obatnya habis. Nanti baru akan di berikan pertimbangan apakah akan lanjut konsumsi penstabil hormon lagi atau tidak.

Lalu bagaimana dengan temanku? Ternyata dia mengalami endometriosis yang membuat nyeri begitu sakit ketika awal haid. Dokterpun menasihati supaya segera menikah saja. Duh, tambah baper!

Kami pulang dengan perasaan yang cukup membawa beban. Penyakit yang baru diketahui dan beban untuk segera menikah padahal calon suami pun belum ada. Nikah sama siapa coba??

#truestory #me.

____________________

Jangan lupa subscribe dan follow me ya. Thankyou for reading

Categories
WordPress

Mengenal P2 dari Automattic

Sekilas Tentang P2

Halloo semua! Adakah teman – teman yang mengenal P2? Belum tahu? Ok, jika masih penasaran bisa lanjut baca ya.

P2 merupakan platform garapan dari Automattic yang berbasis WordPress. Dimana platform ini bisa menampilkan percakapan yang real time layaknya Twitter, bisa like, share, diskusi, review, and kolaborasi dengan tim, tanpa gangguan. Selain itu, P2 juga bisa mention anggota tim tersebut.

Pengaturannya juga bisa dibuat untuk privacy, hanya untuk tim, atau dibuat publik. Sehingga meminimalisir penggunaan email untuk komunikasi secara tim.

P2ing is The New Working

Kalimat di atas merupakan jargon yang diusung Automattic untuk platform ini. Cara kerja baru untuk kolaborasi dari seluruh dunia, collaborate asyncronously.

Tidak hanya berbagi paragraf saja, namun P2 yang basisnya merupakan WordPress bisa menggunakan block editor yang mempunyai variasi bentuk postingan. Kalau teman – teman sudah mengenal WordPress, pasti tahu dengan block editor ini. Cukup mudah digunakan.

Pengaturan lainnya seperti dashboard sama seperti blog di WordPress.com, pun dengan alamat situsnya bisa custom sesuai apa yang kita inginkan.

Hasil Penelusuran P2 by Automattic via Google
Tampilan awal untuk membuat P2 untuk kita pakai

Cara Membuat P2 untuk Pribadi atau Tim

Untuk membuatnya, teman – teman perlu menyiapkan email. Email ini bisa email yang telah digunakan untuk akun WordPress.com.

Masuk ke laman ini untuk melakukan pendaftaran.
Lalu akan muncul form registrasi seperti gambar berikut.

Selanjutnya masukkan Nama Tim atau Nama Project teman – teman, serta alamat yang ingin teman – teman buat.
Lalu klik continue dan… taraaaa! langsung jadi. (Bisa terjadi kalau teman – teman sudah melakukan login ke akun WordPress.com yaa 🙂 )

Tampilan defaultnya seperti ini.

Contoh P2 yang Saya Buat

Sampai saat ini saya telah membuat 3 akun.
1. Alfath Teams, saya buat private.

2. Mozaik Birumuda Quotes, public view.

3. Ganin Solution Project, private view.

Review

Setelah beberapa pekan memakai P2 ini, saya merasa cukup puas. Apalagi untuk private, saya gunakan untuk dokumentasi hasil belajar saya secara online. Jadi tidak membuat space memory laptop berkurang. hihi… Cukup klik link alamatnya, sudah bisa muncul (tentunya dengan koneksi internet yaa) dan langsung menulis di halaman tersebut. Tidak perlu harus ke bagian dashboard untuk posting, sehingga lebih memudahkan. Pun lebih mudah jika ada link – link sumber yang perlu saya kunjungi kemudian.

Ok, itu penjelasan dari saya. Semoga bermanfaat buat teman – teman semua.

Thanks for reading.
Silakan untuk dishare dengan mencantumkan alamat blog ini.

Categories
Beasiswa LPDP

Kuliah S2, Amanah dari Ibu

Belum Dapat Ridlo untuk Kuliah S2

Menjadi sebuah mimpi dan keinginan besar dari saya sewaktu lulus kuliah S1 adalah langsung mengambil kuliah S2 dengan menggunakan beasiswa. Tahun 2013, menjadi petualangan pertama saya untuk hunting beasiswa, beasiswa DIKTI menjadi target pertama saya.

Awalnya ingin kuliah di ITB, namun tertolak. Sebenarnya waktu itu mendapat penawaran untuk pindah prodi di pengajaran fisika bukan di fisika ‘murni’ namun saya tidak serta merta menerimanya. (Maklum ya, kalau jebolan kampus pendidikan sukanya bilang fisika murni dan fisika pendidikan. hihi…). Wallahu a’lam, entah karena saya menolak pindah prodi (karena beasiswa DIKTI tidak support ke prodi tersebut waktu itu) atau karena memang saya tidak mumpuni di prodi fisika ‘murni’ sehingga saya tertolak. Ya, cukup menjadi pengalaman bagi saya.

Ternyata memang ada alasan lain yang lebih berat, yaitu ibu belum ridlo.

Manut pesan Ibu

Apalah daya sebagai anak, tanpa ridlo orang tua jalannya hidup menjadi susah.

Manut pada Ibu waktu itu butuh proses, beliau menginginkan saya bekerja terlebih dahulu selepas S1. Jadilah saya mengajar di sebuah SMK di Purwokerto.

Manut saja sama Ibu, walaupun tekad kuliah S2 masih tertanam kuat di hati. Saya menjalani kegiatan sebagai guru di sana. Guru Fisika SMK,yang kegiatan selingannya latihan nulis dan jualan online.

Dua tahun mengajar, ternyata membuat saya jenuh. Berkali – kali ada niat resign dari SMK dan akhirnya resign pada tahun 2015. Dari situlah mulai mengumpulkan niat untuk mencari beasiswa untuk kuliah S2. Target saya saat itu adalah LPDP dari Kemenkeu dengan tujuan kuliah di UPI.

Sehingga pada pertengahan 2015, saya mendaftar beasiswa LPDP. Waktu itu lolos tes administrasi, lalu lanjut ke wawancara dan LGD. Pada waktu tes wawancara memang cukup menegangkan dan saya gagal di sini.

Kembali lagi ke rumah lalu menanyakan ke Ibu langsung. Ternyata beliau masih belum ridlo juga untuk jauh – jauh dari anaknya, walaupun sebelum keberangkatan pun saya sudah minta izin untuk mendaftar beasiswa ini dan diizinkan. Sepertinya masih ada hati yang belum bisa melepas anaknya.

Terlanjur Resign

Beasiswa gagal, terlanjur resign dari mengajar. Alhasil ini adalah masa – masa untuk mulai menjadi freelancer.

Sedih karena belum juga bisa lanjut S2. Justru mbak saya yang niatnya pulang ke rumah, malah dia yang akhirnya diterima terlebih dahulu di UPI. Jadilah saya tetap di rumah menemani bapak dan ibu.

Saya mulai menjadi freelancer pada pertengahan tahun 2015. Jualan online sewaktu mengajar masih saya lanjutkan, ditambah dengan job menulis artikel yang saya tekuni dari April 2015 dan menjadi guru les privat fisika.

Ibu jatuh sakit, saya harus merawatnya, menemani ke rumah sakit, dan menjaganya sewaktu bapak tidak bisa menemani. Kurang lebih tiga bulan secara intensif merawat ibu dan qadarullah ibu akhirnya meninggal pada 3 Desember 2015.

Sebelumnya, beliau berpesan ingin melihat mbak saya selesai S2 dan menikah, saya juga diminta untuk kuliah S2. Namun ternyata beliau sama sekali tidak bisa melihat anak – anaknya lulus bahkan melihat saya ataupun mbak menikah.

Doa Ibu Terijabah

Walaupun ibu sudah tiada, doanya terijabah.

Harapan supaya anak – anak perempuannya kuliah S2 menjadi kenyataan. Saya yang masih sedih dengan kehilangan sosok Ibu di akhir tahun 2015, mencoba untuk bangkit dan mulai menyiapkan diri menjalankan amanah dari Ibu. Ya, kuliah S2.

Akhirnya saya mencoba mendaftar beasiswa LPDP lagi pada batch 1 tahun 2016, bulan Januari tepatnya. Saya mendaftar untuk kuliah di Pendidikan Fisika, UNY. Namun, setelah ada pengumuman diterima beasiswa LPDP, saya pindah tujuan kuliah. Saya memilih Fisika, UGM. Mengapa saya pindah? saya merasa ingin lebih mendalami fisika, bukan di aspek pendidikannya.

Ternyata pendaftaran di UGM pun diterima, alhamdulillah lega rasanya. Pun pengajuan pindah tujuan kuliah dari pihak LPDP juga diterima, walaupun ada sejumlah uang yang sudah masuk ke UNY. Niatnya pengin double kuliah, tapi ternyata waktunya tidak mencukupi. Ya sudahlah.

Kuliah S2 di UGM, sangat berbeda dengan kuliah S1. Baik dari budaya belajarnya, riset, publikasi dan banyak hal lainnya. Saya sempat mencicipi bagaimana konferensi di Shanghai dan juga science camp di Thailand saat kuliah di UGM. Alhamdulillah pengalaman yang berharga. Semua berkat doa ibu juga. Walaupun pada kenyataannya ada rasa sedih ketika mengalami semuanya, karena ibu tak melihat hasil dari setiap apa yang beliau doakan untuk anak – anak. Hanya rindu dan doa kupanjatkan pada Allah untuk beliau yang sudah masuk ke alam barzah.


Categories
Beasiswa LPDP

9 Tips dan Trik Mendapatkan Beasiswa LPDP

Halo, teman – teman semua?!

Apakah kalian termasuk calon awardee LPDP? Kudoakan semoga kalian yang ingin menjadi awardee dapat menjalani semua tahap pendaftaran dengan lancar. Aamiin. Nah, jika kalian baru banget nih nyari – nyari semua tips dan trik mendapatkan beasiswa LPDP, kalian berada di blog yang tepat.

Perkenalkan, saya Siti Nur Alfath, Awardee LPDP, PK-69 Balin Bahari tahun 2016 batch 1.

Di sini saya akan mengupas semua yang terkait dengan proses mendapatkan beasiswa tersebut. Silakan disimak ya.

jargon kekinian untuk awardee

1. Niat karena mencari ilmu

Murnikan niat teman – teman semua untuk mencari ilmu. Bukan karena kebutuhan pekerjaan, bukan karena gelar, dan bukan untuk kebanggaan.

Karena pada dasarnya, mencari ilmu di S2 merupakan langkah yang perlu diputuskan secara matang. Dimana pendalaman keilmuan yang nantinya akan didapatkan tidak semudah ketika S1.

Dari pengalaman saya kuliah S2, lebih hectic dibandingkan dengan S1. Dimana beban antara belajar, riset, dan publikasi begitu ketat. Jadi perlu dipikirkan matang – matang ya. Lalu, perlu diingat bahwa beasiswa LPDP merupakan beasiswa yang tanggung jawabnya begitu mendalam. Ini uang rakyat Indonesia yang perlu dipertanggungjawabkan. Sehingga ketika sudah selesai kuliah nantinya bisa kembali berkontribusi bagi masyarakat Indonesia.

2. Siap mandiri dalam mencari informasi terkait beasiswa LPDP

Warning! Jangan bertanya sebelum mencari informasinya terlebih dahulu.

Ya, ini adalah kunci utama ketika teman – teman ingin mendaftar beasiswa LPDP. Saya rasa, tidak terlalu sulit. Karena informasi tentang beasiswa LPDP sudah lengkap di web official LPDP.

Apalagi sekarang sudah sangat banyak yang memberikan ulasan tentang beasiswa ini, jadi untuk mendapatkan informasi tidak menjadi suatu permasalahan tersendiri. Yang jelas, percayalah pada penjelasan yang tertulis di web official tersebut atau di media sosial resmi LPDP (instagram LPDP).

Kalau masih belum puas dan masih mengalami kendala, kalian bisa langsung meminta bantuan melalui web official di layanan bantuan pendaftar beasiswa. Di sana sudah tertera banyak FAQ yang bisa kalian baca – baca terlebih dahulu sebelum menanyakan kendala yang teman – teman hadapi.

3. Pelajari persyaratan pendaftaran beasiswa LPDP

Hal yang sering luput dalam proses pendaftaran adalah terlalu fokus dan khawatir pada kekurangan diri. Malah lupa untuk upgrade diri pada poin – poin yang menjadi persyaratan beasiswa ini.

Semisal IPK mepet 3.00. Justru merasa bahwa, “Sepertinya gak mungkin keterima deh, IPK ku mepet”. No! Jangan berasumsi terlebih dahulu. Telah jelas bahwa syarat IPK untuk bisa mendaftar beasiswa LPDP adalah 3.00. Jadi selama IPK >3.00, tidak masalah walaupun itu 3.14 (seperti saya ^.~).

Fokuslah pada persyaratan lainnya, yang bisa membuat teman – teman menjadi orang terpilih dari ribuan orang yang mendaftar. Ibarat magnet, medan magnet teman – teman itu lebih kuat dibandingkan yang lainnya. Dengan cara apa? lihatlah potensi diri teman – teman sendiri. Dari potensi yang ada, teman – teman harus paham bahwa apa yang akan teman – teman lakukan di kemudian hari dengan adanya beasiswa tersebut.

“Paham akan potensi diri. Paham bahwa apakah dengan kuliah lanjut teman – teman bisa berkontribusi lebih banyak?”

Eh… jadi nyerempet ke isi essay persyaratan di jaman saya. Iya, waktu itu saya diminta untuk membuat essay tentang diri dan kontribusi untuk Indonesia.

Selain itu, upgrade kemampuan lainnya juga ya seperti Bahasa Inggris, TPA, dan lain – lain. Intinya pelajari semua persyaratan yang diminta. Saat ini saya belum tahu pasti syarat – syarat pendaftarannya apa saja. Silakan teman – teman cek sendiri ke laman officialnya ya.

oleh - oleh PK LPDP
Oleh – oleh Persiapan Keberangkatan PK-69 LPDP RI

4. Siapkan semua persyaratan dengan matang

Luangkan waktu untuk menyiapkan semua persyaratannya. Jangan lupa, buatlah ceklist daftar persyaratannya. Sehingga tidak ada yang terlupa atau tertinggal ketika akan mengupload persyaratan tersebut di laman pendaftaran.

Saya dulu mendaftar beasiswa ini 2x. Yang pertama ketika 2015 batch 2 dan yang terakhir di 2016 batch 1. Pada pendaftaran yang pertama gagal di wawancara. Saya sudah menyiapkan pendaftaran beasiswa ini beberapa bulan sebelumnya. Terutama essay, beberapa kali rombak. Tapi tidak masalah buat saya karena essay ini mengikuti perubahan juga. Di selaraskan dengan kegiatan saya saat itu. Apalagi pas pendaftaran kedua, essay perlu dirombak lagi. Jadi memang sangat memerlukan waktu khusus untuk menyiapkan beasiswa ini.

Termasuk surat – surat keterangan yang perlu dilampirkan, perlu perjuangan untuk membuatnya. Kalau merasa lelah, ingatlah bahwa yang sudah lolos beasiswa inipun telah melewati rasa lelah itu. 🙂

5. Gali informasi dari awardee (orang – orang yang sudah lolos beasiswa LPDP)

Setelah dirasa semua persayaratan sudah beres, jangan buru – buru upload. Cek kembali, sembari teman – teman mencari tahu tips dan trik lolos beasiswa LPDP dari awardee LPDP. Awardee itu merupakan orang – orang yang sudah dinyatakan diterima/ lolos beasiswa ini, termasuk saya. hehe… (narsis dikit.. wkwk).

Biasanya teman – teman akan mendapatkan berbagai macam tips. Mulai dari bagaimana melewati tahap – tahap tes nya sampai harus pakai baju warna apa ketika wawancara. Dulu saya cukup kaget juga ketika berselancar di banyak blog awardee. Memang benar, banyak yang mengulas warna baju ini. Tahukah teman – teman warna baju apa yang recommended dipakai ketika wawancara? BIRU! ya warna biru. Teman – teman silakan ulik sendiri, filosofi warna biru ini. ^.~

Di blog lama saya, saya sudah mengulas tentang proses yang saya alami ketika melewati tahap demi tahap seleksi beasiswa LPDP ini. Teman – teman bisa membuka di sini. Walaupun seleksinya sekarang sudah agak berbeda ya, tapi gapapa kalau teman – teman mau memperluas wawasan tentang seleksi pada waktu itu (2016) melalui tulisan saya.

Penanggungjawab PK
Pak Kamil

6. Upload persyaratan jauh – jauh hari sebelum waktu pendaftaran berakhir

Nah, kalau teman – teman sudah yakin semua persyaratan lengkap, maka tinggal mengupload semua berkas tersebut.

Dulu saya membuat akun pendaftaran 1 tahun sebelumnya, lalu memperhatikan secara detail apa saja yang diperlukan. Sehingga ketika sudah ada jadwal pendaftaran, saya tinggal mengupload satu demi satu berkas pendaftaran. Hingga di waktu tertentu sudah lengkap, saya submit semuanya. Ingat, sekali klik tombol SUBMIT maka tidak bisa diedit kembali. Jadi, teman – teman harus memperhatikan dengan baik ketika masuk di laman pendaftaran tersebut. Agar jari kita tidak salah klik sebelum persyaratan lengkap.

Usahakan ketika submit, maksimal H-3. Soalnya seringkali saat H-1 server sangat sibuk. Untuk bisa masuk ke akun saja sudah sangat bersyukur. Eh, semoga saat ini sudah lancar selalu ya servernya. hihi…

#Pengalaman saya ketika dulu submit berkas pendaftaran (kesempatan kedua) adalah beberapa menit sebelum pendaftaran ditutup. Jadi benar – benar bikin dag dig dug.. sudah was – was juga kalau tiba – tiba server crowded. hihihi… Makanya saya menyarankan teman – teman tidak melakukan seperti apa yang telah saya alami. Ya, itu pengalaman yang tak terlupakan. Seingat saya, mepet gitu karena ada banyak urusan di hari – hari tersebut, sampai – sampai urusan ke RS pun 1 hari sebelumnya. OMG! >.<

7. Mohon doa restu orang tua

Satu hal terbesar sebelum melakukan pendaftaran adalah minta doa restu pada orang tua.

Saya gagal di pendaftaran yang pertama, salah satunya adalah karena restu ibu yang belum turun 100%. Ya, pada saat itu ibu saya sudah membolehkan, namun ternyata setelah di selidiki lagi beliau masih belum rela anaknya pergi untuk kuliah. Dari peristiwa ini, saya mempunyai kenangan yang teramat penting untuk tidak dilupakan. InsyaAllah saya akan menuliskannya di postingan tersendiri di sini.

8. Jangan lupa bersedekah sebelum tes

Teman semasa wawancara di Bandung pernah mengajarkan bahwa, “Bersedekahlah ketika akan melakukan sesuatu”. Dalam hal ini, saat perjalanan menuju tempat tes. Sungguh, saya tersentak ketika dia mengajak saya bersedekah waktu itu. Bukan masalah pamrih atau tidaknya ketika bersedekah, itu urusan hati masing – masing. Yang pasti, dengan bersedekah membuat hati lebih tersadarkan kembali bahwa hal yang akan kita lakukan adalah menuntut ilmu, mencari beasiswa untuk menuntut ilmu, semua didasari bahwa ini perintah Allah, kembalinya pun kepada Allah. Segala prosesnya pun Allah yang berkehendak. Jadi di atas semua usaha yang telah kita lakukan baliknya ke Allah.

Bersedekah bisa membuat hati lebih plong, lebih lega. Harapannya bisa membuat setiap proses selama tes bisa dilakukan dengan lancar, tanpa ada hambatan.

9. Setelah usaha yang optimal, pasrahkan hasilnya sama Allah SWT

Allah Maha Berkehendak. Setiap usaha manusia, ujung – ujungnya Allah yang memberikan hasilnya. Maka pasrahlah kepada-Nya atas setiap ikhtiar yang sudah kita lakukan.

Satu pelajaran ketika saya gagal wawancara saat pendaftaran beasiswa LPDP di tahun 2015 adalah “Tetaplah rendah hati, pede boleh tapi jangan over”. Dulu, saya merasa saking pedenya untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Lupa, sampai – sampai saat wawancara memunculkan emosi untuk bersikukuh dengan interviewer saat itu. (Tersulut, kesel juga si karena nilai BK saat S1 itu kan jelek ya, lha dibahaslah sama beliau, jadi ya gitu deh, kekeuhnya muncul. Berasa luka lama muncul kembali. Emang dosen waktu itu tu terkenal sulit banget. Ya kalau ditanya mengapa nilai jelek ya nggak tahu, walaupun udah seoptimal mungkin mengikuti arahan dosen, duh..cukup ya.. huhu). Habis wawancara saya tidak menangis. Malah heboh dengan teman – teman yang lain. Setidaknya untuk tidak terlalu sedih ketika hasil wawancara diumumkan. wkwkwk… alibi..

Sedangkan saat pendaftaran yang kedua di Bandung. Alhamdulillah berhasil. Padahal saat wawancara sayanya nangis – nangis. Vocab banyak yang lupa ketika berbicara pakai Bahasa Inggris, udah hopeless sebenarnya. Tapi hati sudah pasrah lebih plong apapun nanti hasilnya, “Kalau rezekinya aku dapat beasiswa, insyaAllah tetap dapat.” Apalagi saya mencoba kedua kalinya karena ingat dengan amanah dari ibu sebelum meninggal. Jadi bawaannya benar – benar pasrah.

Yap, itulah 9 tips dan trik lolos beasiswa LPDP dari saya buat teman – teman semua. Semoga bermanfaat.

Oya, jangan lupa share juga ya postingan ini buat teman – teman yang lain. ^^ Terima kasih

sebagai awardee

Categories
WordPress

Apa beda WordPress.com dengan WordPress.org?

Hai, kembali lagi di tulisan saya tentang WordPress. Nah, kali ini saya akan menjelaskan tentang perbedaan WordPress.com dengan WordPress.org.

Mungkin sampai saat ini ada teman – teman yang belum mengetahui tentang keduanya. Tahunya ya paling WordPress saja. Jujur, saya juga baru tahu secara detail tentang keduanya ya baru akhir – akhir ini. Jadi saya memutuskan untuk sharing ke teman – teman semua.

Mari kita bahas satu persatu.

Apa itu WordPress.com?

WordPress.com merupakan situs penyedia domain dan hosting gratis yang dengan mudah bisa kita gunakan untuk membuat blog. Sangat direkomendasikan untuk pemula. Jadi kalau teman – teman masih newbie ya cocok untuk mulai blogging via WordPress.com ini. Hanya saja alamat url yang dipakai tidak bisa custom, seperti https://sitinuralfath.wordpress.com. Selalu ada .wordpress.com di belakang nama domain teman – teman.

Bagaimana cara mempunyai blog di WordPress.com ini?

Teman – teman bisa registrasi akun dulu di sini. Panduan membuat blog di WordPress.com bagi pemula akan saya tuliskan setelah postingan ini.

Okey?

Apabila teman – teman ingin mempunyai nama domain.com atau menghilangkan .wordpress.com di belakang nama domain yang sekarang, maka teman – teman harus upgrade ke Personal ataupun Premium terlebih dahulu.

Nah, kalau ingin dimonetasi (biar dapat gaji dari Google..hihi) teman – teman wajib upgrade-nya ke Premium. Selain itu, teman – teman juga bisa membuat blog dengan menggunakan WordPress.org dimana domain dan hosting kita beli dari pihak penyedia hosting lainnya.

Tampilan WordPress.com
WordPress.com

Apa itu WordPress.org?

WordPress.org merupakan open source software untuk membuat web ataupun blog. Software ini bisa diunduh dan diupload ke server yang kita punya (atau beli saja ke penyedia hosting, biar mudah). Ada banyak penyedia hosting juga yang memberi kemudahan instalasi WordPress.org ini. Jadi kita tidak perlu unduh dari WordPress.org. Tinggal pilih penyedia hosting yang mendukung WordPress.

Kalau membuat blog dengan cara ini, teman – teman perlu banyak mengumpulkan informasi bagaimana cara membuatnya. Mulai dari beli domain, beli hosting, dan menghubungkan domain dan hosting tersebut. Banyak pengaturan yang perlu di lakukan, jadi harus benar – benar mau nyoba dari awal.

Tapi kelebihannya adalah teman – teman bisa install – install plugin yang dibutuhkan dengan bebas, banyak yang free lho. Plus langsung bisa dimonetasi asalkan memenuhi persyaratan dari Google Adsense.

Tampilan WordPress.org
WordPress.org

Simpulan

Baik WordPress.com ataupun WordPress.org ada kelebihan dan kekurangannya.

Kalau budget tidak ada ya pilihlah yang gratisan di WorPress.com. Di sini pas banget kalau teman – teman cuma ingin menyalurkan hobby menulis tanpa pikir masalah monetasi.

Kalau untuk bisnis, jelas harus ada budget. Banyak penyedia jasa hosting yang memberikan domain gratis dan hosting murah. Boleh search aja di Google. hehe… saya belum mau promosi. Atau upgrade saja blog WordPress.com ke Premium supaya bisa lebih banyak fitur yang akan dipakai dan dimonetasi. Untuk masalah perbandingan harganya sepertinya lebih murah cari domain dan hosting sendiri. Cuma ya gitu, kualitas saya belum tahu. Sampai saat ini saya masih pakai domain dan hosting sendiri. Belum punya budget lebih untuk merasakan upgrade domain dan hosting di WordPress.com.

Oke, selamat mencoba!